Thursday, March 6, 2014

Mbaru Niang, Rumah Adat Terunik Milik Suku Wae Rebo

Setiap suku dan adat istiadat pasti memiliki rumah tradisional masing masing, nah di sebuah desa di Flores terdapat sebuah suku bernama Wae Rebo yang memiliki rumah adat terunik se-Indonesia.

Suku ini terletak di desa Wae Rebo yang bisa ditempuh 4 jam perjalanan darat dari Ruteng dengan medan berkelok menuju Desa Dintor. 
Dari Dintor, jalan langsung menanjak. Melewati pematang sawah dan jalan setapak dari Sebu sampai Denge. Tak sampai di situ, perjalanan masih berlanjut menuju Sungai Wae Lomba. Barulah setelah sungai itu, Anda akan tiba di Desa Wae Rebo.

Nah di desa ini kamu akan menemui kehidupan suku Wae Rebo yang masih sangat alami, jika kamu berkunjung ke desa ini maka kamu akan melihat rumah adat suku ini yang sangat unik. 
Rumah adat milik suku Wae Rebo ini disebut Mbaru Niang. Rumah adat Mbaru Niang ini sangat unik berbentuk kerucut dan memiliki 5 lantai. Setiap lantainya memiliki ruangan dengan fungsi yang berbeda beda.

Pada lantai pertama rumah ini yang disebut lutur atau tenda akan di gunakan oleh si pemilik rumah untuk melakukan aktifitas sehari-hari. 
Lantai kedua yang disebut lobo, adalah tempat menyimpan bahan makanan atau barang. Lantai ketiga yang disebut lentar, adalah tempat menyimpan benih tanaman hasil bercocok tanam. 
Lantai empat, disebut lempa rae, adalah tempat menyimpan stok cadangan makanan yang berguna saat hasil panen kurang banyak. 
Sedangkan pada lantai kelima yang terdapat di puncak rumah digunakan untuk menyimpan aneka sesajian si pemilik rumah.

Rumah adat Mbaru Niang ini jika dilihat sekilas maka akan mirip seperti rumah adat suku Dani di Papua. Namun, bentuk kerucut di Mbaru Niang lebih mendominasi bangunan dengan atap yang hampir menyentuh tanah. Atap yang digunakan rumah adat Mbaru Niang ini menggunakan daun lontar.

Jika kamu mengunjungi rumah adat ini maka si pemiliki rumah tidak akan ragu untuk mengajak kamu masuk ke dalam rumahnya untuk melihat-lihat keunikan rumah adat suku mereka.

Read more: http://topik-unik.blogspot.com/2012/10/mbaru-niang-rumah-adat-terunik-milik.html#ixzz2vFRZukFR

GUNUNG KEMBANG

Gunung ini memang tidak sepopuler  ayah bundanya yaitu Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, padahal Gunung Kembang tidak kalah cantik, bahkan di hutan gunung inilah terdapat lebih  dari seratus jenis anggrek. 10 tahun yang lalu tingginya hanya 1.200 mdpl, tapi sekarang sudah mencapai 2.370 mdpl. Perubahan ketinggian anak Gunung Sindoro ini terjadi karena  perubahan penumpukan material  oleh letupan kawah Gunung Sindoro. Tercatat pada tahun 1818 pernah terjadi letusan abu  yang berasal dari Gunung Kembang, hingga ke Kebumen.
Para pendaki  masih jarang  ke Gunung Kembang, mungkin karena sarana transportasinya yang sulit dan tidak ada basecamp pendakian resmi. Ada beberapa jalur yang bisa dipilih, pertama jalur Desa Lengkong  ataupun Desa Keseneng, Kecamatan Garung , dapat juga  melalui desa Blembem Kecamatan Kertek. Transportasi  yang paling praktis hingga ke desa terakhir adalah dengan menyewa mobil, apalagi jika mendaki berkelompok.
Gunung Kembang bisa didaki dalam waktu  kurang lebih 4 jam. Jauh lebih baik jika dalam  pendakian mengambil waktu siang hari, sehingga saat gelap tiba sudah berada di dalam tenda.   Pendakian malam hari sangat tidak dianjurkan, besar kemungkinan akan teresat karena minimnya papan petunjuk.Tanda yang bisa diikuti hanya potongan pendek tali rafia yang diikat pada ranting pohon, jika pada malam hari tidak terlihat.
Dari desa terakhir diperlukan waktu sekitar 45 menit  untuk memasuki kawasan hutan Gunung Kembang, setelah melewati area perkebunan singkong, kol, jagung dan kadang tembakau. Medan tidak terlalu sulit, sehingga pendaki pemula pun dengan mudah dapat mencapai puncaknya.  Meski mendaki siang hari, namun tetap sejuk karena terlindung pohon-pohon besar nan rimbun dengan banyak tanaman anggrek yang menempel dengan suburnya. Inilah keebihan hutan Gunung Kembang, masih sangat asri dan terjaga.
Setelah 4 jam berjalan, terdapat sebuah gubug yang cukup besar dengan atap serta dindingnya dari plastik warna warni dan deklit. Di dalam gubug terdapat tikar, karpet, selimut dan jaket. Jika tidak membawa tenda gubug ini bisa digunakan untuk menginap menunggu sunrise tiba.  Gubug ini  bisa menampung sekitar 10 orang. 
Perjalanan dari gubug ini menuju puncak Gunung Kembang hanya butuh waktu 10 menit. Namun jika membawa tenda,  kita bisa langsung menuju puncak melewati gubug.
Puncak Gunung Kembang  memang tidak terlalu luas, namun bisa untuk mendirikan hingga 20 tenda. Pemandangan indah nan megah langsung dapat kita nikmati begitu sampai puncak. Di depan mata terlihat jelas Gunung Sindoro yang anggun, sedang di sebelah kanan Gunung Sumbing  tampak menjulang dengan kokoh,  juga Gunung Merbabu-Merapi  berada di belakangnya nampak seperti lukisan alam yang tiada tara.
 Berjalan ke bawah sedikit sekitar 15 menit melewati ilalang yang indah, terdapat kawah mati yang  ditumbuhi rumput hijau dikenal dengan nama “Bimo Pengkok”. Konon menurut legenda, disinilah Bimo pernah jatuh dalam posisi terduduk. Disini terdapat pula mata air kecil yang sangat jernih yang hanya ada di musim penghujan, sehingga saat kemarau akan kering tanpa air.


                                                   Mata air di puncak Gunung Kembang


Ternyata bukan karena faktor transportasi yang sulit saja yang menyebabkan Gunung Kembang jarang didaki, tapi juga karena mistis dan angkernya. Dari beberapa pengalaman banyak yang mengalami hal-hal aneh seperti  jalur yang tiba-tiba hilang, akhirnya  hanya berputar-putar ditempat itu-itu saja. Selain itu di Gunung Kembang masih terdapat harimau tutul. Beberapa petani dari daerah Tambi sering melihat terutama sekitar tahun 2006. Namun sekarang babi hutan masih banyak ditemui di Gunung Kembang ini.  Menurut penduduk sekitar, Gunung Kembang lebih banyak didaki oleh orang-orang yang ingin bersemedi daripada para pendaki biasa. Tak heran jika di sekitar kawah mati Bimo Pengkok banyak sekali sesaji  berupa bunga mawar merah dan putih, ingkung, dupa, hingga buah-buahan yang diletakkan di atas batu maupun di rerumputan. Apalagi bertepatan dengan bulan Suro,  lebih banyak lagi orang yang mendaki gunung Kembang untuk tujuan semedi.  






Sumber : http://amazingwonosobo.blogspot.com

Thursday, February 27, 2014

Mitos Terbentuknya Gunung Sindoro dan Sumbing


Mitos berawal dari kisah hiduplah sepasang suami istri yang ditemani oleh dua orang anak laki-laki. Mereka hidup sebagai seorang petani, yang hidupnya selaras dengan ritme alam pedesaan. Pagi diawali dengan mencangkul, bercocok tanam.

Siang, selepas sepenggalah sinar matahari, istirahat sejenak. Sore menjelang, tiba saatnya untuk pulang ke rumah. Demikian roda dinamika kehidupan setiap hari, nyaris tanpa perubahan. Akan halnya kedua anaknya, mereka selalu bertengkar sepanjang hari. Perilaku anak-anak yang sebenarnya hampir kita jumpai dalam setiap keluarga.

Karena mereka berdua selalu terlibat dalam pertengkaran, suatu ketika, kesabaran sang ayah melebihi batas. Akhirnya anak yang kedua terkena pukulan tangan ayah, mengakibatkan bibirnya robek (dalam bahasa setempat disebut “sumbing”). Hingga kini kedua anak tersebut diabadikan sebagai nama gunung Si(ndoro) dan Si(sumbing).

Ndoro adalah julukan kepada seseorang karena sikap santun, bijaksana dan selalu melindungi. Adapun sumbing diberikan kepada anak yang nomor dua karena tingkahnya. Gunung Sumbing bila dilihat dari sisi timur atau barat akan terlihat bagian tengah robek, melengkung ke bawah.

Dari sepenggal kisah diatas tentunya kita bisa mengambil bagian-bagian positif dalam kisah tersebut. Kisah di atas menganjarkan kita untuk selalu bisa bersikap arif dan bijaksana dalam melakukan apapun untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain. Maka kita sangat diharampan memiliki sifat dan perwatakan yang brutal dengan hawa nafsu iblis merajai diri kita..
 sumber : http://www.kaskus.co.id/thread/51935a603c118e4364000007/dibalik-keindahannya-kota-wonosobo-tersimpan-kisah-misteri/1

Friday, February 7, 2014

Kehancuran Wonosobo Tahun 1925 : Lebih Dari 1000 Orang Meninggal


Sangat sedikit masyarakat Wonosobo dan peminat sejarah yang mengetahui kejadian yang sangat memilukan dan menjadi Top News di era Hindia Belanda Tahun 1924 – 1925. Alam Wonosobo yang selama ini dikenal ramah dengan penduduknya, luluh lantak akibat gempa di Tahun 1924.   
Dalam sebuah terbitan Majalah Lama Berbahasa Belanda “Indie” yang terbit pada Tanggal 7 Januari Tahun 1925, disebutkan secara dramatis kejadian bencana gempa di Wonosobo kurang lebih sebagai berikut : “Wilayah Wonosobo di Hindia Belanda dikejutkan oleh teriakan melengking kesakitan dari masyarakat yang semula hidup bahagia berubah menjadi kemalangan , kesusahan dan kemiskinan . Dalam beberapa hari dan beberapa malam semua yang mereka miliki dan sayangi , hilang, sehingga kesedihan dan keputusasaan telah mencengkeram hati mereka ,Di daerah padat penduduk , cengkeraman bencana alam tanpa henti. Rumah hancur , ternak mati dan melarikan diri , hingga celah-celah akibat bencana menelan manusia, hewan, dan desa. Kampung atau jurang runtuh secara ajaib dikepung oleh gempa bumi dalam hitungan detik , sementara banjir melanda. Pemandangan daerah yang padat bangunan rusak. Ya , saat kita menulis ini , itu sudah dihitung lebih dari seribu orang mati. “
Bangunan di masa kolonial yang nyaris runtuh di WonosoboTahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand)
Dramatisasi kejadian gempa di Wonosobo ini sebenarnya tidaklah berlebihan, salah seorang politisi Hindia Belanda Mr Wijnkoops dalam rapat interpelasi Pemerintah Hindia Belanda pertemuan ke 39 Tanggal 17 Desember 1924, menyatakan dalam sela orasi politiknya : “Saya ingin berbicara tentang bencana yang terjadi di Wonosobo yang saat ini menjadi bahan pembicaraan , dengan gempa bumi yang mengerikan kawasan yang indah di bagian dari Jawa Tengah ini telah hancur . Saya mengucapkan bela sungkawa dan berusaha memberikan suatu yang lebih untuk daerah yang indah tersebut. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi disana.”
Rumah penduduk di Wonosobo yang ambruk karena gempa Tahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand)
Gempa terjadi dimulai pada hari Minggu 9 November 1924. Terdapat 5 guncangan dimana 3 guncangan terasa begitu keras sehingga penduduk yang mempunyai rumah yang terbuat dari batu meninggalkan tempat. Rabu, 12 November 1924 terasa dua guncangan kuat di sore hari yang menyebabkan kerusakan sangat serius. Gempa berlangsung 10 menit dengan guncangan yang keras dan bergelombang dari arah utara disertai suara yang bergemuruh . Minggu, 16 November 1924 gempa kembali mengguncang cukup kuat . Pusat gempa , 4 KM BL dari pusat Kota Wonosobo , telah menyebabkan fragmentasi dan pergeseran lapisan tanah.
Beberapa daerah yang disebut terkena dampak terparah adalah kampung Kali Tiloe, Pagetan, Salam, dan Larang yang terseret runtuhnya tanah. Sedangkan dampaknya mencapai daerah Wonoroto dari utara ke selatan dari pusat gempa. Banyak kampung mengalami kerusakan yang sangat parah (Indie, hlm 331). Lalu apakah yang menyebabkan gempa mengerikan ini? Pada waktu itu tidak ada aktifitas vulkanik yang terekam. Getaran gempa ini murni gempa tektonik. Banyaknya tanah yang bergerak dalam gempa ini adalah hasil dari situasi geologi yang aneh . Kondisi ini diperparah dengan adanya lumpur yang masuk ke Sungai Serajou (Serayu) dan Sungai Prengae (?) akibat gempa dan hujan lebat yang turun sedemikian besar pada waktu itu, membuat air menaik dan menimbulkan banjir besar yang menghancurkan banyak jembatan sehingga Wonosobo terputus jalur komunikasi dan transportasi. Begitu dasyatnya penderitaan penduduk Wonosobo pada saat itu yang sebelumnya telah didera kemiskinan akibat kolonialisme ditambah dengan deraan gempa dan banjir besar yang mengikutinya.
Sebuah bukit di Wonosobo yang runtuh karena pergeseran tanah akibat gempa bumi Tahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand)
Gempa yang terjadi tidak hanya menghancurkan wilayah pedesaan saja namun juga meluluh lantakan bangunan-bangunan kokoh di pusat kota. Beberapa bangunan kolonial ambruk bahkan Hotel Dieng (Hotel Kresna sekarang) hancur. Beberapa bangunan lain yang masih berdiri mengalami kerusakan yang sangat parah.
Hotel Dieng (Hotel Kresna sekarang) mengalami kerusakan berat akibat gempa Tahun 1925. (foto : Tropen Museum Holand)
Bantuan dari berbagai pihak mengalir ke Wonosobo setidaknya ini dibuktikan dengan adanya salah satu pagelaran tinju di Surabaya pada Tanggal 4 Januari 1925 yang disponsori oleh warga keturunan Tionghoa dimana hasil penjualan tiket disumbangkan untuk korban gempa bumi di Wonosobo (A.S. Marcus,2002). Kejadian gempa yang menghancurkan memang telah lama berlalu. Seiring dengan lajunya jaman, cerita dan sejarah tentang kejadian ini seperti hilang tidak berbekas. Namun dengan terangkat kembali cerita sejarah yang hilang ini diharapkan masyarakat Wonosobo yang hidup di era modern ini untuk kembali berintrospeksi mengukur bagaiman kita bersyukur dan lebih bersahabat dengan alam. Semoga tidak terjadi bencana yang mematikan seperti Tahun 1925 di jaman modern ini.(Penelitian literatur oleh Bimo Sasongko – Staf Perpustakaan Kab. Wonosobo) Jatiningjati.com

Daftar Pustaka :
Indie, Eillustreerd Indschrift Voor Nederland En Kolonien , N.V. Boekhandel En Drukkerij G. Kolff & Co., Weltevreden, Nederlandsch Oost-Indie: No. 21 7 Januari 1925 PERTEMUAN ke-39. – 17 Desember 1924. 4.
Adopsi Anggaran SCH Hindia Belanda sebelum 1925. – Interpelasi “Wijnkoops. http://resourcessgd.kb.nl/SGD/19241925/PDF/SGD_19241925_0000006.pdf
De Aardbevingen van Wonosobo op 12 November en 2 December 1924. Door Ir. N.J.M. Taverne. En De Aardbeving van Maos op 15 Mei 1923.
Door Dr. Ch. E. Stehn. A.S. Marcus, Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1,2002, Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta.
Foto : Troppen Museum Holand
  
Note : Artikel ini diambil dari tulisan Bimo Sasongko, pemerhati sejarah Wonosobo. Link tulisan aslinya bisa dilihat di : http://www.jatiningjati.com/2014/02/sangat-sedikit-masyarakat-wonosobo-dan.html

7 Kejadian Mencengangkan yang Akan Terjadi di Masa Depan


1. Angin Topan Akan Bertiup Lebih Dahsyat
Belum bisa dijelaskan apakah global warming bertanggung jawab atas terjadinya badai Katrina. Akan tetapi, ada indikasi-indikasi yang mengaitkan bahwa global warming akan menciptakan badai-badai berkategori 5 - badai Katrina sendiri berkategori 4 saat menghantam Lousiana. Kekuatan badai dimulai dari adanya air hangat dan model-model ramalan menunjukkan badai di masa depan akan menjadi lebih dahsyat seiring dengan naiknya temperatur lautan. Global warming juga membuat badai-badai itu lebih destruktif dengan naiknya permukaan laut yang memicu banjir yang lebih besar di wilayah pesisir.

2. Great Barrier Reef Lenyap
Dalam 20 Tahun Naiknya air laut akibat pemanasan global dalam 20 tahun akan menenggelamkan gugusan karang ajaib ini. Charlie, mantan kepala peneliti di Australian Institute of Marine Science mengatakan pada The Times: “Tidak ada harapan, Great Barrier akan lenyap 20 tahun lagi atau lebih. Sekali karbon dioksida (CO2) menyentuh level seperti yang diprediksi antara tahun 2030 dan 2060, seluruh karang akan lenyap. Hal ini didukung para peneliti karang dan juga semua organisasi terkait lainnya. Ini sudah kritis dan beginilah kenyataanya”. Sebagaimana yang dikutip dari perkataan Charlie dalam wawancara eksklusif.

3. Gurun Sahara Akan Menghijau
Para ilmuwan melihat tanda-tanda bahwa gurun sahara dan wilayah di sekitarnya menghijau akibat makin meningkatnya curah hujan. Hujan ini mampu merevitalisasi wilayah gersangnya sehingga menarik komunitas petani. Kecenderungan menyusutnya gurun ini dijelaskan oleh model-model iklim, yang memprediksi kembalinya ke kondisi yang merubah Sahara menjadi padang rumput subur seperti sekitar 12 ribu tahun yang lalu.

4. Hutan Amazon Akan Berubah Menjadi Gurun
 Memiliki jutaan spesies dan cadangan 1/5 air bersih dunia, hutan Amazon merupakan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Tapi pemanasan global dan penggundulan hutan membalikkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan merubah 30-60 persen hutan menjadi padang rumput kering. Proyeksi-proyeksi menunjukkan bahwa hutan ini bisa lenyap menjelang tahun 2050.

5. Indonesia Kehilangan Ribuan Pulau
Akibat global warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan Indonesia mungkin akan hilang sebelum tahun 2030 dan hal ini diperparah sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24 dari 17.504 pulau-pulau di wilayahnya.

6. London Tenggelam Tahun 2100
Tidak hanya karang dan pulau-pulau landai yang terancam global warming. Faktanya sebuah ancaman besar juga menghantui wilayah kota besar di wilayah pantai yang beresiko tenggelam di bawah air akibat naiknya permukaan laut. Lusinan kota-kota dunia termasuk London dan New York bisa saja lenyap tenggelam menjelang akhir abad ini. Menurut penelitian yang menyebutkan bahwa global warming akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut lebih cpt dari yg diprediksi sblmnya. London trmsk kota besar yang beresiko tinggi seperti digambarkan dalam sebuah film tahun 2007 berjudul “Flood”. Menurut para ahli kota ini akan tenggelam tidak sampai 100 tahun lagi.

 7. Kepulauan Maldiva Tenggelam
Wilayah kepulauan rendah dan flat yang dikelilingi lautan diprediksi akan ditenggelamkan oleh lautan yng mengelilinginya itu. Hal ini merupakan berita buruk bagi para penghuninya dan juga bagi dunia pariwisata yang mengandalkan pantai-pantai berpasir putih dengan air hangatnya, salah satunya adalah kepulauan Maldiva. Para peneliti memberi waktu tidak lebih dari seratus thn sbelum kepulauan ini bebar-benar lenyap ditelan samudera.Itulah Akibat global warming yang terjadi. Mengerikan memang, meski hampir semua dari kita mungkin tidak akan mengalaminya, tetapi anak cucu kitalah yang akan menghadapinya. Mungkin sebagian orang menganggap isu global warming hanyalah bualan saja, tetapi mungkin sebagian dari kita telah merasakan naiknya temperatur di wilayah masing-masing jika dibandingkan kira-kira 10 tahun yang lalu

Sumber: http://www.unikdunia.com/2013/01/7-kejadian-mencengangkan-yang-akan.html
7 Kejadian Mencengangkan yang Akan Terjadi di Masa Depan Posted by Admin Posted on 07.26 with No comments 1. Angin Topan Akan Bertiup Lebih Dahsyat Belum bisa dijelaskan apakah global warming bertanggung jawab atas terjadinya badai Katrina. Akan tetapi, ada indikasi-indikasi yang mengaitkan bahwa global warming akan menciptakan badai-badai berkategori 5 - badai Katrina sendiri berkategori 4 saat menghantam Lousiana. Kekuatan badai dimulai dari adanya air hangat dan model-model ramalan menunjukkan badai di masa depan akan menjadi lebih dahsyat seiring dengan naiknya temperatur lautan. Global warming juga membuat badai-badai itu lebih destruktif dengan naiknya permukaan laut yang memicu banjir yang lebih besar di wilayah pesisir. 2. Great Barrier Reef Lenyap dalam 20 Tahun Naiknya air laut akibat pemanasan global dalam 20 tahun akan menenggelamkan gugusan karang ajaib ini. Charlie, mantan kepala peneliti di Australian Institute of Marine Science mengatakan pada The Times: “Tidak ada harapan, Great Barrier akan lenyap 20 tahun lagi atau lebih. Sekali karbon dioksida (CO2) menyentuh level seperti yang diprediksi antara tahun 2030 dan 2060, seluruh karang akan lenyap. Hal ini didukung para peneliti karang dan juga semua organisasi terkait lainnya. Ini sudah kritis dan beginilah kenyataanya”. Sebagaimana yang dikutip dari perkataan Charlie dalam wawancara eksklusif. 3. Gurun Sahara Akan Menghijau Para ilmuwan melihat tanda-tanda bahwa gurun sahara dan wilayah di sekitarnya menghijau akibat makin meningkatnya curah hujan. Hujan ini mampu merevitalisasi wilayah gersangnya sehingga menarik komunitas petani. Kecenderungan menyusutnya gurun ini dijelaskan oleh model-model iklim, yang memprediksi kembalinya ke kondisi yang merubah Sahara menjadi padang rumput subur seperti sekitar 12 ribu tahun yang lalu. 4. Hutan Amazon Akan Berubah Menjadi Gurun Memiliki jutaan spesies dan cadangan 1/5 air bersih dunia, hutan Amazon merupakan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Tapi pemanasan global dan penggundulan hutan membalikkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan merubah 30-60 persen hutan menjadi padang rumput kering. Proyeksi-proyeksi menunjukkan bahwa hutan ini bisa lenyap menjelang tahun 2050. 5. Indonesia Kehilangan Ribuan Pulau Akibat global warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan Indonesia mungkin akan hilang sebelum tahun 2030 dan hal ini diperparah sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24 dari 17.504 pulau-pulau di wilayahnya. 6. London Tenggelam Tahun 2100 Tidak hanya karang dan pulau-pulau landai yang terancam global warming. Faktanya sebuah ancaman besar juga menghantui wilayah kota besar di wilayah pantai yang beresiko tenggelam di bawah air akibat naiknya permukaan laut. Lusinan kota-kota dunia termasuk London dan New York bisa saja lenyap tenggelam menjelang akhir abad ini. Menurut penelitian yang menyebutkan bahwa global warming akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut lebih cpt dari yg diprediksi sblmnya. London trmsk kota besar yang beresiko tinggi seperti digambarkan dalam sebuah film tahun 2007 berjudul “Flood”. Menurut para ahli kota ini akan tenggelam tidak sampai 100 tahun lagi. 7. Kepulauan Maldiva Tenggelam Wilayah kepulauan rendah dan flat yang dikelilingi lautan diprediksi akan ditenggelamkan oleh lautan yng mengelilinginya itu. Hal ini merupakan berita buruk bagi para penghuninya dan juga bagi dunia pariwisata yang mengandalkan pantai-pantai berpasir putih dengan air hangatnya, salah satunya adalah kepulauan Maldiva. Para peneliti memberi waktu tidak lebih dari seratus thn sbelum kepulauan ini bebar-benar lenyap ditelan samudera.Itulah Akibat global warming yang terjadi. Mengerikan memang, meski hampir semua dari kita mungkin tidak akan mengalaminya, tetapi anak cucu kitalah yang akan menghadapinya. Mungkin sebagian orang menganggap isu global warming hanyalah bualan saja, tetapi mungkin sebagian dari kita telah merasakan naiknya temperatur di wilayah masing-masing jika dibandingkan kira-kira 10 tahun yang lalu

Sumber: http://www.unikdunia.com/2013/01/7-kejadian-mencengangkan-yang-akan.html
Konten ini memiliki hak cipta
7 Kejadian Mencengangkan yang Akan Terjadi di Masa Depan Posted by Admin Posted on 07.26 with No comments 1. Angin Topan Akan Bertiup Lebih Dahsyat Belum bisa dijelaskan apakah global warming bertanggung jawab atas terjadinya badai Katrina. Akan tetapi, ada indikasi-indikasi yang mengaitkan bahwa global warming akan menciptakan badai-badai berkategori 5 - badai Katrina sendiri berkategori 4 saat menghantam Lousiana. Kekuatan badai dimulai dari adanya air hangat dan model-model ramalan menunjukkan badai di masa depan akan menjadi lebih dahsyat seiring dengan naiknya temperatur lautan. Global warming juga membuat badai-badai itu lebih destruktif dengan naiknya permukaan laut yang memicu banjir yang lebih besar di wilayah pesisir. 2. Great Barrier Reef Lenyap dalam 20 Tahun Naiknya air laut akibat pemanasan global dalam 20 tahun akan menenggelamkan gugusan karang ajaib ini. Charlie, mantan kepala peneliti di Australian Institute of Marine Science mengatakan pada The Times: “Tidak ada harapan, Great Barrier akan lenyap 20 tahun lagi atau lebih. Sekali karbon dioksida (CO2) menyentuh level seperti yang diprediksi antara tahun 2030 dan 2060, seluruh karang akan lenyap. Hal ini didukung para peneliti karang dan juga semua organisasi terkait lainnya. Ini sudah kritis dan beginilah kenyataanya”. Sebagaimana yang dikutip dari perkataan Charlie dalam wawancara eksklusif. 3. Gurun Sahara Akan Menghijau Para ilmuwan melihat tanda-tanda bahwa gurun sahara dan wilayah di sekitarnya menghijau akibat makin meningkatnya curah hujan. Hujan ini mampu merevitalisasi wilayah gersangnya sehingga menarik komunitas petani. Kecenderungan menyusutnya gurun ini dijelaskan oleh model-model iklim, yang memprediksi kembalinya ke kondisi yang merubah Sahara menjadi padang rumput subur seperti sekitar 12 ribu tahun yang lalu. 4. Hutan Amazon Akan Berubah Menjadi Gurun Memiliki jutaan spesies dan cadangan 1/5 air bersih dunia, hutan Amazon merupakan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Tapi pemanasan global dan penggundulan hutan membalikkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan merubah 30-60 persen hutan menjadi padang rumput kering. Proyeksi-proyeksi menunjukkan bahwa hutan ini bisa lenyap menjelang tahun 2050. 5. Indonesia Kehilangan Ribuan Pulau Akibat global warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan Indonesia mungkin akan hilang sebelum tahun 2030 dan hal ini diperparah sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24 dari 17.504 pulau-pulau di wilayahnya. 6. London Tenggelam Tahun 2100 Tidak hanya karang dan pulau-pulau landai yang terancam global warming. Faktanya sebuah ancaman besar juga menghantui wilayah kota besar di wilayah pantai yang beresiko tenggelam di bawah air akibat naiknya permukaan laut. Lusinan kota-kota dunia termasuk London dan New York bisa saja lenyap tenggelam menjelang akhir abad ini. Menurut penelitian yang menyebutkan bahwa global warming akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut lebih cpt dari yg diprediksi sblmnya. London trmsk kota besar yang beresiko tinggi seperti digambarkan dalam sebuah film tahun 2007 berjudul “Flood”. Menurut para ahli kota ini akan tenggelam tidak sampai 100 tahun lagi. 7. Kepulauan Maldiva Tenggelam Wilayah kepulauan rendah dan flat yang dikelilingi lautan diprediksi akan ditenggelamkan oleh lautan yng mengelilinginya itu. Hal ini merupakan berita buruk bagi para penghuninya dan juga bagi dunia pariwisata yang mengandalkan pantai-pantai berpasir putih dengan air hangatnya, salah satunya adalah kepulauan Maldiva. Para peneliti memberi waktu tidak lebih dari seratus thn sbelum kepulauan ini bebar-benar lenyap ditelan samudera.Itulah Akibat global warming yang terjadi. Mengerikan memang, meski hampir semua dari kita mungkin tidak akan mengalaminya, tetapi anak cucu kitalah yang akan menghadapinya. Mungkin sebagian orang menganggap isu global warming hanyalah bualan saja, tetapi mungkin sebagian dari kita telah merasakan naiknya temperatur di wilayah masing-masing jika dibandingkan kira-kira 10 tahun yang lalu

Sumber: http://www.unikdunia.com/2013/01/7-kejadian-mencengangkan-yang-akan.html
Konten ini memiliki hak cipta

Tuesday, April 9, 2013

LEGENDA TELAGA WARNA DIENG-WONOSOBO

Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Raja Kutatanggeuhan bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Raja dan ratu sangant bijaksana sehingga kerjaan yang dipimpin makmur dan tenteram.

Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. “Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat,” sahut mereka.
Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya. Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak. Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu pun mulai hamil. Seluruh rakyat di kerajaan itu senang sekali. Mereka membanjiri istana dengan hadiah.
Sembilan bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang putri yang diberinama Gilang Rukmini . Penduduk negeri pun kembali mengirimi putri kecil itu aneka hadiah. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang lucu. Belasan tahun kemudian, ia sudah menjadi remaja yang cantik.
Prabu dan Ratu sangat menyayangi putrinya. Mereka memberi putrinya apa pun yang dia inginkan. Namun itu membuatnya menjadi gadis yang manja. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, gadis itu akan marah. Ia bahkan sering berkata kasar. Walaupun begitu, orangtua dan rakyat di kerajaan itu mencintainya.
Hari berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis tercantik di seluruh negeri. Dalam beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di negeri itu pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang sangat indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpannya dalam ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.
Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli perhiasan. “Tolong, buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku,” kata Prabu. “Dengan senang hati, Yang Mulia,” sahut ahli perhiasan. Ia lalu bekerja d sebaik mungkin, dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia, karena ia sangat menyayangi Putri.
Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat makin terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.
Prabu lalu bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipegangnya. “Putriku tercinta, hari ini aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini pemberian orang-orang dari penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak,” kata Prabu.
Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. “Aku tak mau memakainya. Kalung ini jelek!” seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu. Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai.
Itu sungguh mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Putri akan berbuat seperti itu. Tak seorang pun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba meledaklah tangis Ratu Purbamanah. Dia sangat sedih melihat kelakuan putrinya.Akhirnya semua pun meneteskan air mata, hingga istana pun basah oleh air mata mereka. Mereka terus menangis hingga air mata mereka membanjiri istana, dan tiba-tiba saja dari dalam tanah pun keluar air yang deras, makin lama makin banyak. Hingga akhirnya kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam dan terciptalah sebuah danau yang sangat indah.
Di hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung Putri yang tersebar di dasar telaga.
 
sumber. alam-paradewa.blogspot.com

Friday, April 5, 2013

DIENG CULTURE FESTIVAL IV

Dieng Culture Festival 2013
diengSPECIAL TRIP DIENG 2013 Jika di Brazil terkenal dengan festival goyang samba di Rio De Janiero, maka di Dataran Tinggi Dieng juga memiliki Festival Budaya (Dieng Culture Festival) yang tak kalah menariknya.
Dieng tak hanya terkenal akan keindahan wisata alamnya saja, keunikan budaya menjadi daya tarik tersendiri. Selama 3 tahun terakhir (DCF) Dieng Culture Festival menjadi magnet baru wisata di Jawa Tengah. DCF atau Dieng Culture Festival adalah pesta rakyat terbesar di pegunungan Dieng, yang diselenggarakan setiap tahun hanya sekali. Menampilkan ruwatan cukur rambut gembel yang telah lama melegenda, atraksi seni budaya, wayang kulit dan pameran kerajinan khas pegunungan Dieng.
diengSemua akan kagum, dengan satu pertunjukan ini. Penari-penari rampak yakso bak prajurit perkasa di kahyangan Dieng, dengan baju merahnya yang menyala berani. Memberi ritme pada setiap gerakanya, alunan musik itu menyatu pada suasana alam. Inilah satu atraksi yang tak boleh dilewatkan begitu saja dalam pameran seni budaya (Dieng Culture Festival).
(DCF) Dieng Culture Festival adalah Satu moment yang paling ditunggu-tunggu di pegunungan Dieng. Satu event yang paling spektakuler, dan satu peristiwa yang paling langka. Perpaduan antara keindahan alam dan keunikan budaya menjadikan Dieng sebagai tujuan wisata paling bergengsi di tahun 2013.
Tahun 2013 membawa angin segar pada dunia pariwisata Dieng, Jawa Tengah selain menjadi daerah destinasi visit jateng 2013. Dieng Culture Festival yang akan diselenggarakan tahun ini akan lebih meriah dengan agenda dan acara-acara yang mengagumkan. Kunjungilah Dieng, temukan tiap jengkal kindahanya dan nikmati atraksi budayanya dalam Dieng Culture Festival IV tahun 2013.
Yang Paling dinanti-nanti
Salah satu ritual yang banyak dinantikan dalam Festival Budaya (Dieng Culture Festival) adalah ritual potong rambut gembel, pada puncak acara si anak rambut gembel dinaikan ke kereta dan diiringi oleh manggolo yudho dan diiringi oleh berbagai macam kesenian yang ada di dataran tinggi Dieng, kemudian anak-anak berambut gimbal ini dijamasi dan dipotong rambutnya. Setelah itu rambut akan dilarung ke sungai atau ke telaga yang airnya mengalir menuju ke selatan sebagai wujud pengembalian rambut.

sumber : diengculturefestival.com