Thursday, February 27, 2014
Mitos Terbentuknya Gunung Sindoro dan Sumbing
Mitos berawal dari kisah hiduplah sepasang suami istri yang ditemani oleh dua orang anak laki-laki. Mereka hidup sebagai seorang petani, yang hidupnya selaras dengan ritme alam pedesaan. Pagi diawali dengan mencangkul, bercocok tanam.
Siang, selepas sepenggalah sinar matahari, istirahat sejenak. Sore menjelang, tiba saatnya untuk pulang ke rumah. Demikian roda dinamika kehidupan setiap hari, nyaris tanpa perubahan. Akan halnya kedua anaknya, mereka selalu bertengkar sepanjang hari. Perilaku anak-anak yang sebenarnya hampir kita jumpai dalam setiap keluarga.
Karena mereka berdua selalu terlibat dalam pertengkaran, suatu ketika, kesabaran sang ayah melebihi batas. Akhirnya anak yang kedua terkena pukulan tangan ayah, mengakibatkan bibirnya robek (dalam bahasa setempat disebut “sumbing”). Hingga kini kedua anak tersebut diabadikan sebagai nama gunung Si(ndoro) dan Si(sumbing).
Ndoro adalah julukan kepada seseorang karena sikap santun, bijaksana dan selalu melindungi. Adapun sumbing diberikan kepada anak yang nomor dua karena tingkahnya. Gunung Sumbing bila dilihat dari sisi timur atau barat akan terlihat bagian tengah robek, melengkung ke bawah.
Dari sepenggal kisah diatas tentunya kita bisa mengambil bagian-bagian positif dalam kisah tersebut. Kisah di atas menganjarkan kita untuk selalu bisa bersikap arif dan bijaksana dalam melakukan apapun untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain. Maka kita sangat diharampan memiliki sifat dan perwatakan yang brutal dengan hawa nafsu iblis merajai diri kita.. sumber : http://www.kaskus.co.id/thread/51935a603c118e4364000007/dibalik-keindahannya-kota-wonosobo-tersimpan-kisah-misteri/1
Friday, February 7, 2014
Kehancuran Wonosobo Tahun 1925 : Lebih Dari 1000 Orang Meninggal
Dalam sebuah terbitan Majalah Lama Berbahasa Belanda “Indie” yang terbit pada Tanggal 7 Januari Tahun 1925, disebutkan secara dramatis kejadian bencana gempa di Wonosobo kurang lebih sebagai berikut : “Wilayah Wonosobo di Hindia Belanda dikejutkan oleh teriakan melengking kesakitan dari masyarakat yang semula hidup bahagia berubah menjadi kemalangan , kesusahan dan kemiskinan . Dalam beberapa hari dan beberapa malam semua yang mereka miliki dan sayangi , hilang, sehingga kesedihan dan keputusasaan telah mencengkeram hati mereka ,Di daerah padat penduduk , cengkeraman bencana alam tanpa henti. Rumah hancur , ternak mati dan melarikan diri , hingga celah-celah akibat bencana menelan manusia, hewan, dan desa. Kampung atau jurang runtuh secara ajaib dikepung oleh gempa bumi dalam hitungan detik , sementara banjir melanda. Pemandangan daerah yang padat bangunan rusak. Ya , saat kita menulis ini , itu sudah dihitung lebih dari seribu orang mati. “
Bangunan di masa kolonial yang nyaris runtuh di WonosoboTahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand)
Rumah penduduk di Wonosobo yang ambruk karena gempa Tahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand)
Beberapa daerah yang disebut terkena dampak terparah adalah kampung Kali Tiloe, Pagetan, Salam, dan Larang yang terseret runtuhnya tanah. Sedangkan dampaknya mencapai daerah Wonoroto dari utara ke selatan dari pusat gempa. Banyak kampung mengalami kerusakan yang sangat parah (Indie, hlm 331). Lalu apakah yang menyebabkan gempa mengerikan ini? Pada waktu itu tidak ada aktifitas vulkanik yang terekam. Getaran gempa ini murni gempa tektonik. Banyaknya tanah yang bergerak dalam gempa ini adalah hasil dari situasi geologi yang aneh . Kondisi ini diperparah dengan adanya lumpur yang masuk ke Sungai Serajou (Serayu) dan Sungai Prengae (?) akibat gempa dan hujan lebat yang turun sedemikian besar pada waktu itu, membuat air menaik dan menimbulkan banjir besar yang menghancurkan banyak jembatan sehingga Wonosobo terputus jalur komunikasi dan transportasi. Begitu dasyatnya penderitaan penduduk Wonosobo pada saat itu yang sebelumnya telah didera kemiskinan akibat kolonialisme ditambah dengan deraan gempa dan banjir besar yang mengikutinya.
Sebuah bukit di Wonosobo yang runtuh karena pergeseran tanah akibat gempa bumi Tahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand)
Hotel Dieng (Hotel Kresna sekarang) mengalami kerusakan berat akibat gempa Tahun 1925. (foto : Tropen Museum Holand)
Daftar Pustaka :
Indie, Eillustreerd Indschrift Voor Nederland En Kolonien , N.V. Boekhandel En Drukkerij G. Kolff & Co., Weltevreden, Nederlandsch Oost-Indie: No. 21 7 Januari 1925 PERTEMUAN ke-39. – 17 Desember 1924. 4.
Adopsi Anggaran SCH Hindia Belanda sebelum 1925. – Interpelasi “Wijnkoops. http://resourcessgd.kb.nl/SGD/19241925/PDF/SGD_19241925_0000006.pdf
De Aardbevingen van Wonosobo op 12 November en 2 December 1924. Door Ir. N.J.M. Taverne. En De Aardbeving van Maos op 15 Mei 1923.
Door Dr. Ch. E. Stehn. A.S. Marcus, Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1,2002, Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta.
Foto : Troppen Museum Holand
Note : Artikel ini diambil dari tulisan Bimo Sasongko, pemerhati sejarah Wonosobo. Link tulisan aslinya bisa dilihat di : http://www.jatiningjati.com/2014/02/sangat-sedikit-masyarakat-wonosobo-dan.html
7 Kejadian Mencengangkan yang Akan Terjadi di Masa Depan
1. Angin Topan Akan Bertiup Lebih Dahsyat
Belum bisa dijelaskan apakah global warming bertanggung jawab atas terjadinya badai Katrina. Akan tetapi, ada indikasi-indikasi yang mengaitkan bahwa global warming akan menciptakan badai-badai berkategori 5 - badai Katrina sendiri berkategori 4 saat menghantam Lousiana. Kekuatan badai dimulai dari adanya air hangat dan model-model ramalan menunjukkan badai di masa depan akan menjadi lebih dahsyat seiring dengan naiknya temperatur lautan. Global warming juga membuat badai-badai itu lebih destruktif dengan naiknya permukaan laut yang memicu banjir yang lebih besar di wilayah pesisir.
2. Great Barrier Reef Lenyap
Dalam 20 Tahun Naiknya air laut akibat pemanasan global dalam 20 tahun akan menenggelamkan gugusan karang ajaib ini. Charlie, mantan kepala peneliti di Australian Institute of Marine Science mengatakan pada The Times: “Tidak ada harapan, Great Barrier akan lenyap 20 tahun lagi atau lebih. Sekali karbon dioksida (CO2) menyentuh level seperti yang diprediksi antara tahun 2030 dan 2060, seluruh karang akan lenyap. Hal ini didukung para peneliti karang dan juga semua organisasi terkait lainnya. Ini sudah kritis dan beginilah kenyataanya”. Sebagaimana yang dikutip dari perkataan Charlie dalam wawancara eksklusif.
3. Gurun Sahara Akan Menghijau
Para ilmuwan melihat tanda-tanda bahwa gurun sahara dan wilayah di sekitarnya menghijau akibat makin meningkatnya curah hujan. Hujan ini mampu merevitalisasi wilayah gersangnya sehingga menarik komunitas petani. Kecenderungan menyusutnya gurun ini dijelaskan oleh model-model iklim, yang memprediksi kembalinya ke kondisi yang merubah Sahara menjadi padang rumput subur seperti sekitar 12 ribu tahun yang lalu.
4. Hutan Amazon Akan Berubah Menjadi Gurun
Memiliki jutaan spesies dan cadangan 1/5 air bersih dunia, hutan Amazon merupakan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Tapi pemanasan global dan penggundulan hutan membalikkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan merubah 30-60 persen hutan menjadi padang rumput kering. Proyeksi-proyeksi menunjukkan bahwa hutan ini bisa lenyap menjelang tahun 2050.
5. Indonesia Kehilangan Ribuan Pulau
Akibat global warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan Indonesia mungkin akan hilang sebelum tahun 2030 dan hal ini diperparah sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24 dari 17.504 pulau-pulau di wilayahnya.
6. London Tenggelam Tahun 2100
Tidak hanya karang dan pulau-pulau landai yang terancam global warming. Faktanya sebuah ancaman besar juga menghantui wilayah kota besar di wilayah pantai yang beresiko tenggelam di bawah air akibat naiknya permukaan laut. Lusinan kota-kota dunia termasuk London dan New York bisa saja lenyap tenggelam menjelang akhir abad ini. Menurut penelitian yang menyebutkan bahwa global warming akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut lebih cpt dari yg diprediksi sblmnya. London trmsk kota besar yang beresiko tinggi seperti digambarkan dalam sebuah film tahun 2007 berjudul “Flood”. Menurut para ahli kota ini akan tenggelam tidak sampai 100 tahun lagi.
7. Kepulauan Maldiva Tenggelam
Wilayah kepulauan rendah dan flat yang dikelilingi lautan diprediksi akan ditenggelamkan oleh lautan yng mengelilinginya itu. Hal ini merupakan berita buruk bagi para penghuninya dan juga bagi dunia pariwisata yang mengandalkan pantai-pantai berpasir putih dengan air hangatnya, salah satunya adalah kepulauan Maldiva. Para peneliti memberi waktu tidak lebih dari seratus thn sbelum kepulauan ini bebar-benar lenyap ditelan samudera.Itulah Akibat global warming yang terjadi. Mengerikan memang, meski hampir semua dari kita mungkin tidak akan mengalaminya, tetapi anak cucu kitalah yang akan menghadapinya. Mungkin sebagian orang menganggap isu global warming hanyalah bualan saja, tetapi mungkin sebagian dari kita telah merasakan naiknya temperatur di wilayah masing-masing jika dibandingkan kira-kira 10 tahun yang lalu
Sumber: http://www.unikdunia.com/2013/01/7-kejadian-mencengangkan-yang-akan.html
Sumber: http://www.unikdunia.com/2013/01/7-kejadian-mencengangkan-yang-akan.html
Konten ini memiliki hak cipta
7 Kejadian
Mencengangkan yang Akan Terjadi di Masa Depan
Posted by Admin Posted on 07.26 with No comments
1. Angin Topan Akan Bertiup Lebih Dahsyat
Belum bisa dijelaskan apakah global warming bertanggung jawab atas
terjadinya badai Katrina. Akan tetapi, ada indikasi-indikasi yang
mengaitkan bahwa global warming akan menciptakan badai-badai berkategori
5 - badai Katrina sendiri berkategori 4 saat menghantam Lousiana.
Kekuatan badai dimulai dari adanya air hangat dan model-model ramalan
menunjukkan badai di masa depan akan menjadi lebih dahsyat seiring
dengan naiknya temperatur lautan. Global warming juga membuat
badai-badai itu lebih destruktif dengan naiknya permukaan laut yang
memicu banjir yang lebih besar di wilayah pesisir.
2. Great Barrier Reef Lenyap dalam 20 Tahun
Naiknya air laut akibat pemanasan global dalam 20 tahun akan
menenggelamkan gugusan karang ajaib ini. Charlie, mantan kepala peneliti
di Australian Institute of Marine Science mengatakan pada The Times:
“Tidak ada harapan, Great Barrier akan lenyap 20 tahun lagi atau lebih.
Sekali karbon dioksida (CO2) menyentuh level seperti yang diprediksi
antara tahun 2030 dan 2060, seluruh karang akan lenyap. Hal ini didukung
para peneliti karang dan juga semua organisasi terkait lainnya. Ini
sudah kritis dan beginilah kenyataanya”. Sebagaimana yang dikutip dari
perkataan Charlie dalam wawancara eksklusif.
3. Gurun Sahara Akan Menghijau
Para ilmuwan melihat tanda-tanda bahwa gurun sahara dan wilayah di
sekitarnya menghijau akibat makin meningkatnya curah hujan. Hujan ini
mampu merevitalisasi wilayah gersangnya sehingga menarik komunitas
petani. Kecenderungan menyusutnya gurun ini dijelaskan oleh model-model
iklim, yang memprediksi kembalinya ke kondisi yang merubah Sahara
menjadi padang rumput subur seperti sekitar 12 ribu tahun yang lalu.
4. Hutan Amazon Akan Berubah Menjadi Gurun
Memiliki jutaan spesies dan cadangan 1/5 air bersih dunia, hutan Amazon
merupakan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Tapi pemanasan global
dan penggundulan hutan membalikkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon
dan merubah 30-60 persen hutan menjadi padang rumput kering.
Proyeksi-proyeksi menunjukkan bahwa hutan ini bisa lenyap menjelang
tahun 2050.
5. Indonesia Kehilangan Ribuan Pulau
Akibat global warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan
Indonesia mungkin akan hilang sebelum tahun 2030 dan hal ini diperparah
sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak
lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24
dari 17.504 pulau-pulau di wilayahnya.
6. London Tenggelam Tahun 2100
Tidak hanya karang dan pulau-pulau landai yang terancam global warming.
Faktanya sebuah ancaman besar juga menghantui wilayah kota besar di
wilayah pantai yang beresiko tenggelam di bawah air akibat naiknya
permukaan laut. Lusinan kota-kota dunia termasuk London dan New York
bisa saja lenyap tenggelam menjelang akhir abad ini. Menurut penelitian
yang menyebutkan bahwa global warming akan mengakibatkan naiknya
permukaan air laut lebih cpt dari yg diprediksi sblmnya. London trmsk
kota besar yang beresiko tinggi seperti digambarkan dalam sebuah film
tahun 2007 berjudul “Flood”. Menurut para ahli kota ini akan tenggelam
tidak sampai 100 tahun lagi.
7. Kepulauan Maldiva Tenggelam
Wilayah kepulauan rendah dan flat yang dikelilingi lautan diprediksi
akan ditenggelamkan oleh lautan yng mengelilinginya itu. Hal ini
merupakan berita buruk bagi para penghuninya dan juga bagi dunia
pariwisata yang mengandalkan pantai-pantai berpasir putih dengan air
hangatnya, salah satunya adalah kepulauan Maldiva.
Para peneliti memberi waktu tidak lebih dari seratus thn sbelum
kepulauan ini bebar-benar lenyap ditelan samudera.Itulah Akibat global
warming yang terjadi. Mengerikan memang, meski hampir semua dari kita
mungkin tidak akan mengalaminya, tetapi anak cucu kitalah yang akan
menghadapinya. Mungkin sebagian orang menganggap isu global warming
hanyalah bualan saja, tetapi mungkin sebagian dari kita telah merasakan
naiknya temperatur di wilayah masing-masing jika dibandingkan kira-kira
10 tahun yang lalu
Sumber: http://www.unikdunia.com/2013/01/7-kejadian-mencengangkan-yang-akan.html
Konten ini memiliki hak cipta
Sumber: http://www.unikdunia.com/2013/01/7-kejadian-mencengangkan-yang-akan.html
Konten ini memiliki hak cipta
7 Kejadian
Mencengangkan yang Akan Terjadi di Masa Depan
Posted by Admin Posted on 07.26 with No comments
1. Angin Topan Akan Bertiup Lebih Dahsyat
Belum bisa dijelaskan apakah global warming bertanggung jawab atas
terjadinya badai Katrina. Akan tetapi, ada indikasi-indikasi yang
mengaitkan bahwa global warming akan menciptakan badai-badai berkategori
5 - badai Katrina sendiri berkategori 4 saat menghantam Lousiana.
Kekuatan badai dimulai dari adanya air hangat dan model-model ramalan
menunjukkan badai di masa depan akan menjadi lebih dahsyat seiring
dengan naiknya temperatur lautan. Global warming juga membuat
badai-badai itu lebih destruktif dengan naiknya permukaan laut yang
memicu banjir yang lebih besar di wilayah pesisir.
2. Great Barrier Reef Lenyap dalam 20 Tahun
Naiknya air laut akibat pemanasan global dalam 20 tahun akan
menenggelamkan gugusan karang ajaib ini. Charlie, mantan kepala peneliti
di Australian Institute of Marine Science mengatakan pada The Times:
“Tidak ada harapan, Great Barrier akan lenyap 20 tahun lagi atau lebih.
Sekali karbon dioksida (CO2) menyentuh level seperti yang diprediksi
antara tahun 2030 dan 2060, seluruh karang akan lenyap. Hal ini didukung
para peneliti karang dan juga semua organisasi terkait lainnya. Ini
sudah kritis dan beginilah kenyataanya”. Sebagaimana yang dikutip dari
perkataan Charlie dalam wawancara eksklusif.
3. Gurun Sahara Akan Menghijau
Para ilmuwan melihat tanda-tanda bahwa gurun sahara dan wilayah di
sekitarnya menghijau akibat makin meningkatnya curah hujan. Hujan ini
mampu merevitalisasi wilayah gersangnya sehingga menarik komunitas
petani. Kecenderungan menyusutnya gurun ini dijelaskan oleh model-model
iklim, yang memprediksi kembalinya ke kondisi yang merubah Sahara
menjadi padang rumput subur seperti sekitar 12 ribu tahun yang lalu.
4. Hutan Amazon Akan Berubah Menjadi Gurun
Memiliki jutaan spesies dan cadangan 1/5 air bersih dunia, hutan Amazon
merupakan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Tapi pemanasan global
dan penggundulan hutan membalikkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon
dan merubah 30-60 persen hutan menjadi padang rumput kering.
Proyeksi-proyeksi menunjukkan bahwa hutan ini bisa lenyap menjelang
tahun 2050.
5. Indonesia Kehilangan Ribuan Pulau
Akibat global warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan
Indonesia mungkin akan hilang sebelum tahun 2030 dan hal ini diperparah
sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak
lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24
dari 17.504 pulau-pulau di wilayahnya.
6. London Tenggelam Tahun 2100
Tidak hanya karang dan pulau-pulau landai yang terancam global warming.
Faktanya sebuah ancaman besar juga menghantui wilayah kota besar di
wilayah pantai yang beresiko tenggelam di bawah air akibat naiknya
permukaan laut. Lusinan kota-kota dunia termasuk London dan New York
bisa saja lenyap tenggelam menjelang akhir abad ini. Menurut penelitian
yang menyebutkan bahwa global warming akan mengakibatkan naiknya
permukaan air laut lebih cpt dari yg diprediksi sblmnya. London trmsk
kota besar yang beresiko tinggi seperti digambarkan dalam sebuah film
tahun 2007 berjudul “Flood”. Menurut para ahli kota ini akan tenggelam
tidak sampai 100 tahun lagi.
7. Kepulauan Maldiva Tenggelam
Wilayah kepulauan rendah dan flat yang dikelilingi lautan diprediksi
akan ditenggelamkan oleh lautan yng mengelilinginya itu. Hal ini
merupakan berita buruk bagi para penghuninya dan juga bagi dunia
pariwisata yang mengandalkan pantai-pantai berpasir putih dengan air
hangatnya, salah satunya adalah kepulauan Maldiva.
Para peneliti memberi waktu tidak lebih dari seratus thn sbelum
kepulauan ini bebar-benar lenyap ditelan samudera.Itulah Akibat global
warming yang terjadi. Mengerikan memang, meski hampir semua dari kita
mungkin tidak akan mengalaminya, tetapi anak cucu kitalah yang akan
menghadapinya. Mungkin sebagian orang menganggap isu global warming
hanyalah bualan saja, tetapi mungkin sebagian dari kita telah merasakan
naiknya temperatur di wilayah masing-masing jika dibandingkan kira-kira
10 tahun yang lalu
Sumber: http://www.unikdunia.com/2013/01/7-kejadian-mencengangkan-yang-akan.html
Konten ini memiliki hak cipta
Sumber: http://www.unikdunia.com/2013/01/7-kejadian-mencengangkan-yang-akan.html
Konten ini memiliki hak cipta
Tuesday, April 9, 2013
LEGENDA TELAGA WARNA DIENG-WONOSOBO
Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan.
Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup
tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Raja
Kutatanggeuhan bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu
Purbamanah. Raja dan ratu sangant bijaksana sehingga kerjaan yang
dipimpin makmur dan tenteram.
Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki
anak. Itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu
menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak
setuju. “Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak
angkat,” sahut mereka.
Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya.
Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus
berdoa, agar dikaruniai anak. Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka
terkabul. Ratu pun mulai hamil. Seluruh rakyat di kerajaan itu senang
sekali. Mereka membanjiri istana dengan hadiah.
Sembilan bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang putri yang diberinama
Gilang Rukmini . Penduduk negeri pun kembali mengirimi putri kecil itu
aneka hadiah. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang lucu. Belasan tahun
kemudian, ia sudah menjadi remaja yang cantik.
Prabu dan Ratu sangat menyayangi putrinya. Mereka memberi putrinya apa
pun yang dia inginkan. Namun itu membuatnya menjadi gadis yang manja.
Kalau keinginannya tidak terpenuhi, gadis itu akan marah. Ia bahkan
sering berkata kasar. Walaupun begitu, orangtua dan rakyat di kerajaan
itu mencintainya.
Hari berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis tercantik di seluruh
negeri. Dalam beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para
penduduk di negeri itu pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang
sangat indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu,
lalu menyimpannya dalam ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa
menggunakannya untuk kepentingan rakyat.
Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli
perhiasan. “Tolong, buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku,”
kata Prabu. “Dengan senang hati, Yang Mulia,” sahut ahli perhiasan. Ia
lalu bekerja d sebaik mungkin, dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan
kalung yang paling indah di dunia, karena ia sangat menyayangi Putri.
Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun
istana. Ketika Prabu dan Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira.
Sambutan hangat makin terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul
di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.
Prabu lalu bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipegangnya.
“Putriku tercinta, hari ini aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini
pemberian orang-orang dari penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu.
Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu
tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak,” kata Prabu.
Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. “Aku tak
mau memakainya. Kalung ini jelek!” seru Putri. Kemudian ia melempar
kalung itu. Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di
lantai.
Itu sungguh mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Putri akan berbuat
seperti itu. Tak seorang pun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba
meledaklah tangis Ratu Purbamanah. Dia sangat sedih melihat kelakuan
putrinya.Akhirnya semua pun meneteskan air mata, hingga istana pun basah
oleh air mata mereka. Mereka terus menangis hingga air mata mereka
membanjiri istana, dan tiba-tiba saja dari dalam tanah pun keluar air
yang deras, makin lama makin banyak. Hingga akhirnya kerajaan
Kutatanggeuhan tenggelam dan terciptalah sebuah danau yang sangat indah.
Di hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah
dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman,
bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun orang mengatakan,
warna-warna itu berasal dari kalung Putri yang tersebar di dasar telaga.
sumber. alam-paradewa.blogspot.com
Friday, April 5, 2013
DIENG CULTURE FESTIVAL IV
Dieng Culture Festival 2013
Dieng tak hanya terkenal akan keindahan wisata
alamnya saja, keunikan budaya menjadi daya tarik tersendiri. Selama 3
tahun terakhir (DCF) Dieng Culture Festival menjadi magnet baru wisata
di Jawa Tengah. DCF atau Dieng Culture Festival adalah pesta rakyat
terbesar di pegunungan Dieng, yang diselenggarakan setiap tahun hanya
sekali. Menampilkan ruwatan cukur rambut gembel yang telah lama
melegenda, atraksi seni budaya, wayang kulit dan pameran kerajinan khas
pegunungan Dieng.
(DCF) Dieng Culture Festival adalah Satu
moment yang paling ditunggu-tunggu di pegunungan Dieng. Satu event yang
paling spektakuler, dan satu peristiwa yang paling langka. Perpaduan
antara keindahan alam dan keunikan budaya menjadikan Dieng sebagai
tujuan wisata paling bergengsi di tahun 2013.
Tahun 2013 membawa angin segar pada dunia
pariwisata Dieng, Jawa Tengah selain menjadi daerah destinasi visit
jateng 2013. Dieng Culture Festival yang akan diselenggarakan tahun ini
akan lebih meriah dengan agenda dan acara-acara yang mengagumkan.
Kunjungilah Dieng, temukan tiap jengkal kindahanya dan nikmati atraksi
budayanya dalam Dieng Culture Festival IV tahun 2013.
Yang Paling dinanti-nanti
Salah satu ritual yang banyak dinantikan dalam
Festival Budaya (Dieng Culture Festival) adalah ritual potong rambut
gembel, pada puncak acara si anak rambut gembel dinaikan ke kereta dan
diiringi oleh manggolo yudho dan diiringi oleh berbagai macam kesenian
yang ada di dataran tinggi Dieng, kemudian anak-anak berambut gimbal ini
dijamasi dan dipotong rambutnya. Setelah itu rambut akan dilarung ke
sungai atau ke telaga yang airnya mengalir menuju ke selatan sebagai
wujud pengembalian rambut.
sumber : diengculturefestival.com
Friday, March 15, 2013
SEJARAH MANUSIA
Sejarah manusia terdiri dari tiga tahapan
1. Kita menangis disaat yang lain tertawa, yaitu saat pertama kalinya kita dilahirkan, awal kita membuka mata kita dan melihat dunia.
2. Kita tertawa disaat yang lain tertawa, yaitu saat hari pernikahan kita, disitu mulai awal kehidupan baru, dua manusia menjadi satu.
3. Kita tertawa disaat yang lain menangis, yaitu saat akhir dari umur kita, saat kita meninggalkan dunia yang pernah kita singgahi.
1. Kita menangis disaat yang lain tertawa, yaitu saat pertama kalinya kita dilahirkan, awal kita membuka mata kita dan melihat dunia.
2. Kita tertawa disaat yang lain tertawa, yaitu saat hari pernikahan kita, disitu mulai awal kehidupan baru, dua manusia menjadi satu.
3. Kita tertawa disaat yang lain menangis, yaitu saat akhir dari umur kita, saat kita meninggalkan dunia yang pernah kita singgahi.
Thursday, January 17, 2013
DIENG, GUNUNG DEWA YANG TERLUPAKAN
Aku pikir Dieng itu sudah cukup
terkenal. Setidaknya orang-orang akan tahu di mana lokasinya, apa saja
yang menarik di sana, dan seperti apa gambarannya. Tetapi dugaanku
meleset. Pertanyaan yang datang dari teman-teman ketika mengetahui
rencana perjalananku ke sana ternyata cukup mengejutkan.
“Dieng itu deketnya Bromo, ya?”
“Deket Surabaya, ya?”
“Kalau naik pesawat, turun di airportnya mana?”
“Oh, Dieng itu di Jawa Tengah, dekat dengan Wonosobo”.
“Wonosobo itu mana?”Baiklah teman-teman, Dieng itu terletak dataran tinggi yang berada di wilayah kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dieng sendiri sebenarnya adalah kaldera yang berada di kawasan gunung berapi aktif dengan beberapa kepundan kawah pada ketinggian di atas 2000 mdpl.
Lalu, apa saja yang menarik
di sana? Wah, banyak sekali yang menarik. Secara alamiah, letak
geografis Dieng yang merupakan dataran paling tinggi di Jawa dan
dikelilingi gugusan gunung seperti Gunung Sumbing, Gunung Sindoro dan
Gunung Perahu ini, menyuguhkan panorama alam yang begitu kaya dan luar
biasa. Golden sunrise, silver sunrise, gunung berselimut kabut yang
eksotis, kawah-kawah yang masih aktif, hamparan pemandangan di lembah
dan sejuknya udara adalah sebagian di antaranya. Secara kultural, Dieng
juga memiliki kekayaan yang begitu mempesona. Berasal dari kata Di
(gunung) dan Hyang (dewa), Dieng juga menyimpan cerita tentang
keberadaannya yang digambarkan sebagai kahyangan para dewa. Masih
berdirinya candi-candi bernuansa Hindu dan situs-situs bekas wihara
mempertegas perjalanan sejarah yang pernah ada. Keduanya menyatu dan
saling memperkaya, yang antara lain melahirkan mitos-mitos yang sangat
menggelitik untuk dicerna, seperti misalnya tentang keberadaan Kawah
Candradimuka, candi-candi yang dinamakan dengan nama tokoh-tokoh
pewayangan, Telaga Balai Kambang, dan sebagainya.
Perjalanan dari Jakarta – Batur - Dieng
Bersama suami dan dua orang teman,
kami menempuh perjalanan kali ini lewat darat dengan mobil dari
Jakarta. Karena bertepatan dengan long week end, perjalanan
agak tersendat. Maklum saja, jalanan ramai dan padat, ditambah ada saja
truk atau kendaraan lain yang tiba-tiba mogok, belum lagi kami sempat
tersesat gara-gara mengikuti petunjuk GPS yang ternyata membaca jalan
buntu sebagai jalan yang tembus ke Dieng.
Karena tidak ingin lewat Wonosobo, dan bermaksud
memotong jalan yang lebih dekat, kami menyusuri jalanan dengan
perkebunan salak di samping kiri dan kanannya. Di sepanjang jalan yang
semakin menanjak itu, jarang kami menemukan rumah-rumah penduduk, warung
makan, apalagi pasar. Tapi kami sempat berpapasan dengan seorang bapak
yang tengah memikul salak. Karena lapar, kami pun turun dan membeli dua
kilo, yang karena tidak ada alat timbangnya lantas dikira-kira dengan
plastik kresek yang ditimang-timang. Tradisional sekali. Kami pun
melanjutkan perjalanan dengan dibekali bonus pertanyaan sederhana tapi
menggelitik rasa: berjalan kaki dengan beban berat menyusuri jalan yang
menanjak, hendak dibawa kemana salak tadi?
Dalam perjalanan itu, kami memutuskan untuk mencoba mencari homestay.
Pertimbangannya, kalau di hotel di Wonosobo, untuk mencapai ke Sikunir
(tujuan utama kami) perjalanan masih sekitar 70 km lagi. Sedangkan bila
kami tinggal di homestay di Dieng maka jarak ke Sikunir hanya sekitar 10 km saja. So,
masih lumayan bisa bobok lebih lama, tidak perlu bangun pukul 2 pagi
hari …. Yang penting datang langsung mandi air hangat … eh tunggu dulu,
emang homestay-nya ada water heater-nya? Jangan-jangan cuma ember dan air panas yang direbus diceret dengan kayu bakar.
Kami tiba di homestay tengah hari, sandal kami
lepas depan pintu dan tanpa alas kaki aku masuk ke dalam ruang tamu ….
uuuuuuu … aku loncat ke atas permadani, lalu naik ke sofa sambil melipat
kaki … uademe rek!!! Dingin sekali seperti menginjak es, sampai-sampai
aku harus pakai celana panjang 2 rangkap, baju 2 rangkap plus jaket
tebal. Mandiiiii? Siapa takut? Water heaternya ada walau selangnya dipantek di tembok bagian atas, jadi shower cuma bisa geleng-geleng aja di tempatnya. Jet washernya
… sama, selang dipasang dari sebelah atas dan dia tergantung di bawah
tanpa bisa ditarik-tarik. Tetapi secara umum, untuk ukuran homestay,
yang kami tempati ini cukup lumayan. Rumahnya bersih, kamar dengan 1
tempat tidur besar untuk 2 orang dengan kamar mandi didalam seharga Rp.
200.000.- per malam. Kopi, teh dan gula siap 24 jam di atas meja tamu
berikut air panas dalam termos. Mobil juga bisa masuk ke garasi. Yang
empunya rumah super ramah, seperti kebanyakan masyarakat di daerah.
Malam hari kami masih dapat suguhan kentang goreng, asli kentang dieng
yang tersohor enaknya.
DIENG PLATEAU
Perjalanan diawali dengan
mengunjungi yang deket-deket dulu yaitu ke Dieng plateau dan danau 5
warna (malah ada yang bilang 7 warna), yang sayangnya dari dekat aku
hanya bisa melihat dua warna saja, warna hijau tosca dan warna campuran
susu. Menurut Kabul, pemandu yang menemani kami, dulunya memang ada 5
warna, yakni hijau, biru, merah, kuning, jingga. Warna kuning dan
jingga muncul karena ada emas yang disembunyikan di dalamnya. Emas yang
pada jaman dahulu digunakan untuk membuat pintu kerajaan. Sedangkan
warna merah muncul karena di dalamnya ada batu mirah, tetapi batu
tersebut sudah hilang karena diambil oleh mahluk halus.
Di telaga warna ini tidak ada
ikan yang dapat hidup karena airnya mengandung belerang. Berbeda dengan
telaga Pengilon disebelahnya yang berair tawar dan terdapat ikannya,
terbukti ketika kami berkunjung ada yang tengah asyik memancing di situ.
KAWAH SIKIDANG
Dari Dieng plateau kami menuju ke
Kawah Sikidang. Kedua tempat ini berdekatan dan mudah dijangkau. Kawah
Sikidang ini masih aktif dan memiliki tempat keluar gasnya bisa
berpindah-pindah. Bagi yang tidak ingin jalan, disediakan rumah panggung
untuk menikmati lokasi dari lantai dua. Selain itu disini ada semacam
pasar kecil yang menjual berbagai jenis makanan, minuman dan sayuran
khas Dieng. Misalnya , lombok Dieng yang bentuknya besar dan gendut,
buah Carica baik yang sudah diolah maupun belum, macam-macam jajanan
dari kentang, dll.
GUNUNG SIKUNIR
Hari berikutnya, jam 3 pagi-pagi
buta, kami sudah bangun dan bersiap menuju ke gunung Sikunir, salah satu
dari 3 gunung yang berada di dataran tinggi Dieng. Ketinggiannya 2.263
mdpl. Kami melewati desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di
dataran tinggi Dieng (2.093 mdpl). Ditaburi hujan rintik-rintik dan
berselimutkan dingin, serta berbekal lampu senter, tas kamera dalam
gendongan berikut tripodnya, kami menembus kegelapan dan melewati semak
belukar dan pepohonan dengan penuh semangat.
“Ada ular gak Bul?” tanyaku pada Kabul.
“Kalau ada, ularnya udah mati kedinginan bu”.
Wrong question in the wrong situation.
Menurut Kabul kami akan berjalan sejauh 400 meter, tidak terlalu jauh jaraknya untuk mencapai zona 1 di puncak Sikunir, tetapi gempor juga karena jalanan mendaki, jarang datarnya apalagi jalanan menurun … ya iyalah namanya juga naik gunung.
Dengan napas yang cukup tersengal karena jalanan
yang menanjak dan dingin yang menghimpit sampai juga kami di zona 1,
sementara suami memilih ke zona 2 yang lebih mendaki lagi. Karena
ditinggal Kabul yang mengantar suami, kami pikir tempat ini bisa sebagai
spot untuk memotret, sebelum akhirnya melihat ada rombongan berdelapan
orang yang turun lagi ke bawah. Instingku bekerja. Karena penasaran, aku
ikut turun mau tahu ada apa di bawah sana… dan olalaaaaa … itu spot
yang lebih bagus buat mengambil foto. Aku pun lari memanggil kedua
teman yang lain untuk ikut turun.
Berdiri di spot itu, ketika matahari belum
bersinar, nun jauh di bawah lembah terlihat lampu-lampu rumah dan
jalanan di dua desa melukiskan noktah putih dalam lembaran gelap. Dan
ketika langit mulai memerah, kabut tipis melayang menutup pedesaan itu
lalu merayap naik menyelimuti gunung Sindoro. Kabut yang semakin tebal
seakan membawaku dalam perjalanan astral menuju Sang Pencipta.
Kami harus cukup puas dengan
pemandangan itu karena kabut tebal tidak segera menyingkir. Menurut
informasi, pada bulan Juni – Agustus cuaca lebih cerah, dan kita dapat
melihat gunung-gunung yang lain seperti Sindoro, Sumbing, dan Merapi
bahkan kota Ungaranpun dengan lebih jelas. Tetapi pada bulan-bulan itu
hawa akan lebih dingin lagi, akan ada embun upas yang menjadi momok bagi
petani karena dapat merusak tanaman mereka. Momen yang mungkin akan
menarik bagi kami, karena embun itu membeku seperti kristal.
Puas dengan suguhan terbitnya matahari, kami turun
ke tempat parkir … ealah ternyata ada danau Cebong disitu. Kami sempat
ngobrol dengan seorang pemancing, katanya ikan-ikan disitu suka makan
kentang, jadi umpannya ya kentang, bukan cacing … ternyata di sana kami
dan ikan sama-sama suka kentang.
Bukit Batu
Untuk melihat pemandangan yang
indah ini kami harus rela naik gunung lagi, tetapi tidak seperti ke
Sikunir. Lokasinya dapat dicapai dari tempat parkir Dieng Plateau
Theatre. Suguhan yang tak kalah indahnya dari Sikunir. Danau Telaga
Warna dan Danau Pengilon yang terletak bersebelahan terlihat jelas dari
atas bukit yang hanya cukup buat tiga orang saja, dan bahkan hanya untuk
satu orang saja jika ingin beraksi untuk mengabadikannya dengan
kamera. Dari tempat itu, nampak jelas rumah-rumah penduduk, kompleks
candi Arjuna, dan kawah Sikidang. Meskipun belum puas, kami harus rela
bergantian dengan wisatawan lain yang datang.
Sumur Jalatunda
“Mendaki lagi Bul?” Tanyaku dengan nafas tersengal.
“Tidak bu”.
Bohong ah, kami masih harus menapaki anak tangga lagi … kalau gini baru deh berasa tua, lutut sudah kaku-kaku.
Menurut mitos, sumur Jalatunda ini terjadi
gara-gara Bima marah dan menancapkan tumitnya ke tanah. Sumur ini pula
yang konon digunakan mandi oleh anaknya yang bernama Antareja. Bagi
pengunjung, di sini disediakan batu untuk menjajal kemampuannya. Bagi
laki-laki, mereka harus melemparkan batu hingga mengenai dinding tebing
di seberangnya, jika berhasil maka keinginannya akan terkabul. Sementara
itu, bagi perempuan cukup untuk bisa melemparkan batu sampai ke tengah
sumur saja.
Kawah Sileri
Dari Sumur Jalatunda kami melanjutkan perjalanan ke Kawah Sileri.
“Tidak perlu naik bu, cuma dipinggir jalan”. Hehehe Kabul pasti ngeledek lagi nih.
“Tapi tidak perlu turun, kan?”
“Boleh kalau mau”.
“Tidak menerima tantangan Bul”.
Kebayang naiknya lagi kalau mau turun ke Kawah Sileri, lagi pula
pemandangan jauh lebih bagus bila diabadikan dari atas.
Menurut Kabul, sekitar tahun 90-an air di kawah ini
berwarna putih seperti air tajin (air rebusan beras), tetapi karena
tercemar oleh air dari pertanian di sekitar lereng-lerengnya maka airnya
berubah kehitaman.
Danau Merdada
Ada dua mitos yang diceritakan
tentang terbentuknya danau Merdada ini. Yang pertama ketika Sugriwa dan
Subali sedang bertapa memperebutkan keris. Sugriwa mendapat kerisnya
sedangkan Subali mendapatkan warangka keris itu. Karena marah tidak
mendapatkannya dengan lengkap, maka Sugriwa menusukkan keris nya di
lereng gunung dimana Subali membuat danau di atasnya, sehingga gunungnya
bocor dan membentuk danau yang dinamakan danau Merdada. Karena kering
tanpa air, danau yang dibuat oleh Subali maka dinamakan danau Wurung
(wurung berarti tidak jadi atau batal).
Mitos lain menceritakan bahwa danau ini tempat
lahirnya Anoman. Pada jaman dahulu barangsiapa yang berani-berani cuci
muka disitu akan dikutuk menjadi monyet, contohnya ya seperti Sugriwa
dan Subali itu. Ada yang mau mencoba?
Kompleks Candi Arjuna
Pukul 06:00 mentari pagi bersinar,
tidak ada hujan, cuaca cerah membuat kami bergegas menuju kompleks candi
Arjuna yang tidak jauh dari homestay tempat kami tinggal, hanya sekitar 5 menit dengan kendaraan roda empat.
Kabut tipis membayang dekat ke permukaan tanah,
suasana yang sepi dengan pemukiman nun di lereng gunung, dikelilingi
oleh bukit-bukit dan pohon pinus berjajar di dua sisi mengapit jalan
setapak menuju Bale Kambang di sebelah timur kompleks candi, memberikan
imaginasi seolah-olah kami tidak di Indonesia, ditambah adanya
domba-domba gendut yang sedang merumput.
Jauh dari polusi, jauh dari keramaian dan
kebisingan, yang terdengar hanya bunyi nafas dan suasana magis menanti
sang surya menampakkan diri dari balik bukit.
Kompleks candi Arjuna diperkirakan
dibangun pada tahun 809. Ada empat buah candi yang berada dikompleks
ini, yaitu Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Sembadra dan Puntadewa. Masing-masing candi kecil ini memiliki keunikan tersendiri, kecuali Puntadewa dan Sembadra yang polos saja.
Candi Arjuna yang paling besar memiliki saluran air
berkepala naga yang disebut jaladwara. Di bagian atas pintu ada arca
yang disebut kala, dan di samping kiri kanan bagian tangga ada arca ular
yang dinamakan makara. Di dalam candi ini ada bangunan kecil berbentuk
kotak disebut yoni, yang menampung tetesan air dari atap candi meski
pun meskipun tidak ada hujan, terlihat ada rembesan air dari atas.
Sekali lagi mitos menceritakan barangsiapa yang meletakkan tangannya di
atas yoni dan kejatuhan tetesan air, maka keinginannya akan terkabul.
Candi Semar berseberangan dengan candi Arjuna,
bangunan yang lebih kecil ini fungsinya sebagai tempat penyimpanan
senjata. Di dalam candi Semar juga ada yoni.
Candi Srikandi memiliki keistimewaan dengan adanya
tiga relief pada dinding luar candi yang melambangkan tiga dewa yaitu
Shiwa, Wisnu dan Brahma.
Disebelah kanan kompleks candi Arjuna terdapat
tempat peristirahatan yang disebut Darmasala, dan di bagian belakangnya
terdapat beberapa lingga yang dulu digunakan untuk tempat penyimpanan
abu jenasah.
Selain itu di bagian belakang kompleks ini ada satu candi yang bernama Selaki yang terletak di
selatan candi Arjuna. Dari jauh sudah terlihat candi Selaki, tetapi
tidak menarik untuk didekati. Menuju ke candi ini melewati jalan
setapak yang ditumbuhi rerumputan. Di sebelah selatannya malah ada
tiang dari bambu terpancang di tanah membentuk segi empat tinggi
menjulang, awalnya aku pikir ada pemugaran di bagian bawahnya tapi kok
tidak ada terpalnya. Ternyata itu tempat buat lomba merpati … duilah … di lokasi situs purbakala lho, luar biasa.
Anak-Anak Berambut Gembel
Satu hal lagi keunikan yang
terdapat di Dieng yaitu adanya anak gembel (sering disebut gimbal).
Anak-anak dengan ciri khusus ini hanya terdapat di daerah Wonosobo.
Menurut mitos, anak-anak ini adalah anak yang istimewa karena merupakan
titisan dari Kyai Kaladete, seseorang yang dianggap sebagai orang sakti
dan tetua di Dieng.
Anak-anak ini seringkali menjadi anak yang
menyebalkan karena apapun yang mereka minta harus dituruti, dan bagi
mereka yang memberikan sesuatu sebagai hadiah kepada anak-anak ini juga
dianggap akan mendatangkan rejeki. Ada tiga macam jenis rambut gembel,
yaitu gembel pari yang berupa untaian kecil-kecil seperti batang padi,
gembel wedus yang menggumpal-gumpal seperti wedus (domba), dan gembel
jata yang hanya segumpal di bagian ubun-ubun. Dan yang paling banyak
dijumpai diantara mereka adalah gembel pari. Tidak ada yang tahu apa
penyebab anak-anak ini tiba-tiba berambut gembel.
Setelah naik-naik ke puncak gunung, aku dan
teman-teman memanggil tukang urut. Ibu si tukang urut ini dulunya juga
anak gembel, selain sebagai tukang urut, dia juga bertugas memandikan
dan mencuci rambut anak-anak gembel yang akan dipotong dalam upacara
yang diadakan setahun sekali. Acara itu sendiri sudah menjadi obyek
nasional bahkan internasional dan diliput berbagai media.
Kuliner
Soal kuliner, walaupun tidak
berlimpah dan banyak ragamnya, di situ ada satu rumah makan yang
menyediakan mie ongklok dan selalu ramai dikunjungi pembeli. Mie onglok
ini khas daerah Wonosobo. Mie yang kuahnya kental dan manis dipadukan
dengan sate daging yang telah diberi bumbu kecap, jadi tidak ada lagi
bumbu kacangnya. Rasanya mantap, sayang dagingnya sedikit keras.
Satu porsi mie ongklok dihargai Rp 5.000,- dan satu
porsi sate daging berisi 10 tusuk seharga Rp. 15.000,-. Bagiku makanan
ini termasuk nggemesi dan ngangeni dengan porsi mie
ongklok-nya yang kecil dan gak nendang, kata orang Jakarta. Sekali
makan cukup, tapi setelah sekian jam pingin lagi … rakus kaleeeee …
Selain mie ongklok di rumah makan tersebut juga
tersedia berbagai jenis masakan lain, salah satunya soto ayam yang
lumayan enak. Satu porsi nasi soto ayam seharga Rp. 7.000,-. Selain
itu, di pasar juga ada warung-warung makan lain, bisa memilih menu
masakan yang telah tersaji dengan harga yang wajar, artinya tidak
dimahalin karena melihat kita dari luar kota.
Plus Minus Dieng & Keindahan yang Masih Menanti
Dieng dengan semua kekayaan
wisatanya merupakan salah satu tempat favoritku di Jawa Tengah.
Penduduknya yang ramah dan sopan dan tidak adanya pungutan-pungutan liar
di tempat-tempat wisata adalah nilai plus yang lain. Semua lokasi
wisata menarik biaya tiket masuk dengan harga wajar dengan jumlah karcis
yang diberikan sesuai dengan jumlah yang kita bayarkan. Rata-rata per
orang Rp. 5.000,- ditambah kendaraan roda empat juga sama. Parkir Rp.
2.000,- sama rata di semua lokasi. Hanya di Sikunir yang mematok biaya
masuk Rp. 3.000,- per orang.
Membawa kamera tidak perlu ada tambahan biaya, ini
patut diacungi jempol. Aku paling sebel bila masuk ke lokasi wisata dan
dikenakan biaya tambahan hanya karena membawa kamera. Bukankah kita,
para photografer, ikut membantu menyebarkan lokasi-lokasi wisata secara
gratis kok malah dikenakan biaya?
Ada banyak sekali tempat-tempat yang menunggu untuk
dikunjungi, sebut saja: Telaga Menjer (masih satu jam perjalanan dengan
kendaraan roda empat dari desa Banjarnegara), Dieng Volcanic Theater,
museum Dieng Kaliasa, air terjun, dll. Tetapi karena keterbatasan waktu
maka kami hanya sempat mengunjungi beberapa lokasi saja.
Jalan raya di Dieng meskipun kecil tetapi bersih
dan mulus, hanya jalan menuju ke Sikunir yang rusak, aspal telah
terkelupas menyisakan batu-batu yang terserak.
Yang patut disayangkan adalah kurang dirawatnya
peninggalan-peninggalan kebudayaan. Batu-batu candi di Dharmasala
dibiarkan teronggok. Candi Selaki malah terletak di tengah halaman
penuh rumput dan genangan air. Kamuncak, bagian atas candi yang
seharusnya terletak diatas salah satu candi yang ada di pelataran candi
Arjuna, malah dibiarkan tergeletak di bagian bawah di pelataran.
Semoga hal ini bisa menjadi perhatian dinas pariwisata dan tidak dibiarkan berlarut-larut.
Sumber : Kompasiana, 11 April 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)

